DPRD Berau Desak Pemkab Segera Manfaatkan RS Baru Berau
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Belum dibukanya pelayanan di Rumah Sakit Baru yang telah rampung di bangun mendapat perhatian dari Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, yang mendesak Pemkab Berau agar segera mengambil langkah konkret agar fasilitas tersebut bisa segera dimanfaatkan.
Bagi Dedy, keberadaan
gedung megah tanpa aktivitas pelayanan bukan hanya ironi, tetapi juga
berpotensi merugikan masyarakat yang membutuhkan akses kesehatan lebih cepat
dan dekat.
“Sudah seharusnya
bila bangunannya sudah selesai, maka harus segera dimanfaatkan. Tidak perlu
menunggu semuanya sempurna,” ujarnya.
Ia menilai,
operasional rumah sakit sebenarnya dapat dimulai secara bertahap. Layanan dasar
seperti Instalasi Gawat Darurat (IGD) hingga pemeriksaan medis awal dinilai
sudah cukup untuk menjadi langkah awal, sembari melengkapi kekurangan fasilitas
dan tenaga.
“Minimal masyarakat
sudah bisa datang untuk berobat. Jangan sampai dibiarkan kosong terlalu lama,”
katanya.
Dedy pun menargetkan
agar rumah sakit tersebut sudah mulai beroperasi paling lambat Mei mendatang.
Menurutnya, penundaan yang terlalu lama justru akan menimbulkan persoalan baru,
baik dari sisi pelayanan publik maupun administrasi pemerintahan.
Ia mengingatkan,
keterlambatan pengoperasian fasilitas yang sudah dibangun berpotensi
menimbulkan catatan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), terutama terkait
efektivitas penggunaan anggaran.
“Ini bukan hanya soal
pelayanan, tapi juga soal pertanggungjawaban anggaran. Jangan sampai jadi
temuan,” tegasnya.
Namun, di balik
dorongan percepatan tersebut, Dedy juga tidak menutup mata terhadap berbagai
kendala yang masih membayangi. Salah satunya adalah belum rampungnya fasilitas
pendukung seperti Tempat Pembuangan Akhir (TPA), yang menjadi bagian penting
dalam operasional rumah sakit. Ia menilai, persoalan teknis seperti ini harus
segera diselesaikan agar tidak menjadi hambatan di kemudian hari.
“Kita tidak ingin
rumah sakit sudah dibuka, tapi masalah pendukungnya belum siap. Ini harus
diselesaikan paralel,” ujarnya. Meski demikian, Dedy menekankan bahwa tantangan
terbesar bukan hanya pada infrastruktur, melainkan pada kesiapan sumber daya
manusia (SDM), khususnya tenaga medis.
Menurutnya,
kekurangan dokter umum maupun dokter spesialis masih menjadi persoalan klasik
yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi. Padahal, keberadaan tenaga medis
merupakan faktor utama dalam menentukan kualitas layanan kesehatan.
“Gedung bisa kita
bangun cepat, tapi menyiapkan SDM itu tidak bisa instan. Ini yang harus
benar-benar dipikirkan,” katanya.
Ia mengingatkan,
pembukaan rumah sakit tanpa perencanaan SDM yang matang justru berisiko
menimbulkan masalah baru. Salah satunya adalah potensi “kanibalisasi” tenaga
medis dari rumah sakit yang sudah ada. Jika hal itu terjadi, maka alih-alih
menambah kapasitas layanan kesehatan, justru bisa melemahkan fasilitas yang
sebelumnya sudah berjalan.
“Jangan sampai hanya
memindahkan dokter dari rumah sakit lama. Nanti yang lama ikut terganggu
pelayanannya,” tegasnya lagi.
Untuk itu, Dedy
mendorong pemerintah daerah segera menyusun strategi jangka pendek dan panjang
dalam pemenuhan tenaga medis. Mulai dari membuka rekrutmen baru, menjalin kerja
sama dengan institusi pendidikan, hingga menyiapkan skema insentif agar tenaga medis
bersedia bertugas di Berau.
Ia juga menekankan
pentingnya regulasi yang jelas agar proses pemenuhan SDM tidak terhambat secara
administratif. “Harus ada langkah konkret, bukan hanya wacana. Regulasi dan
kebijakan pendukung harus segera disiapkan,” ujarnya.
Di sisi lain,
masyarakat Berau sendiri kini menaruh harapan besar pada keberadaan rumah sakit
baru tersebut. Selain untuk mengurangi beban fasilitas kesehatan yang ada,
rumah sakit ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan, terutama bagi
warga di wilayah yang selama ini kesulitan akses.
Karena itu, Dedy berharap pemerintah daerah dapat bergerak cepat dan tepat, agar rumah sakit tersebut tidak hanya menjadi simbol pembangunan, tetapi benar-benar hadir sebagai solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat.
“Ini soal kebutuhan
dasar masyarakat. Rumah sakit ini harus segera hidup, bukan sekadar berdiri,”
pungkasnya. (sep/FN/Advertorial)